News

Bersiap Dengan Kenormalan Baru

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan berita-berita yang bermunculan di lini media massa yang mengharuskan kita beradaptasi dengan wajah kenormalan baru. Betulkah baru? Berangkat dari pelajaran yang ada di negara Korea Selatan (Korsel). Korsel membuka segala aktivitas untuk bisa memulihkan sisi ekonomi negaranya. Hasilnya? 39 kasus baru, termasuk 27 transmisi lokal dan memiliki 11.441 total kasus. Padahal kita tahu, Korea Selatan punya tingkat standar kedisiplinan tentang kesehatan yang sangat tinggi. Kembali lagi kepada negara kita Indonesia, sudah siapkah dengan kenormalan baru? Sekali lagi, kita sangat tidak bisa bergantung kepada siapapun juga, termasuk pemerintah.

Pada sisi lain, Indonesia sudah sangat lesu. Ekonomi kita sudah jatuh 50% disegala bidang. Itulah kita akan melihat, yang mana pemimpin yang kompentensinya baik dan pemimpin mana yang jauh dari kata baik. Maka dengan itu penulis katakan, bergeraklah! Buatlah gerakan-gerakan yang berani, sistem lama tidak akan pernah bekerja lagi, dalam dunia pendidikan pun persis sama, kita harus main dengan cara yang baru, jauhi sistem lama. Kita tahu, dengan menerapkan sistem lama pun apa hasilnya? Kita belum bisa mencetak Eyang Habibie yang baru, kita belum bisa mencetak Sutomo baru (baca:Bung Tomo) baru, kita juga belum bisa mencetak, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Muhammad Natsir, Ahmad Hassan, Hassan al-Banna, bahkan Muhammad Al-Fatih yang baru. Atau kita hanya senang dengan keterpurukan selama ini, dan apakah kita malas untuk berfikir dan bergerak untuk menerapkan sistem yang bisa memakmurkan negara ini?

Kalimat kenormalan baru hanya menjadi bahan bercandaan diperkumpulan-perkumpulan dan perkopian sahabat-sahabat Nabi. Kenapa? Sepertinya umat Islam ini baru diajarkan dengan cara bagaimana harus hidup sehat dan hidup bersih, kita ini sepertinya lebih percaya perkataan Amerika dan Tiongkok, mungkin. Padahal jauh berabad-abad yang lalu kita sudah tahu bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman, lalu kalau tidak bersih? Yah cacat iman kita, hanya manusia-manusia berbudi pekerti luhur yang tidak mau beriman cacat. Dan juga, sekitar 14 abad yang lalu, kita juga diajarkan untuk karantina jika ada wabah, Khalifah Umar sudah mencotohkan, jika ada wabah jangan memasuki wilayah tersebut, dan ketika kita berada daerah wabah kita harus mengkarantina diri.

Wabah ini mau tidak mau harus menjadi bahan pelajaran kita untuk terus membaca literasi sejarah-sejarah, berfikir untuk terus mensejahterakan, dan terus berdiri dalam keadilan. Sebagai pendidik, kita harus terus berfikir ilmiah, jangan bantah anak, tapi diskusikan lah. Itulah mengapa ketika saya mengajar, saya lebih suka dengan kondisi yang jauh dari kata formal, saya lebih suka berdiskusi dengan mereka (para peserta didik) dari pada harus membacakan buku dongeng-dongeng kurikulum. Betul saja, menurut penelitian saya, dari 25 siswa ketika kondisi non-formal, 95% mereka lebih terlihat senang dan riang gembira, dan  ketika saya mendongengkan buku-buku kurikulum 100% mereka berubah mimik, menjadi bosen dan bahkan mengantuk, tidak percaya buktikan saja, atau bahkan kalian para pendidik merasakan hal yang sama?

Untuk manusia-manusia yang umurnya dibawah 40 tahun, kalian adalah 60% populasi Indonesia, kalian adalah manusia-manusia yang akan merubah wajah Indonesia, yang juga akan merubah sistem pendidikan kita, kita tidak perlu harus menunduk patuh pada sistem pendidikan kita sekarang, kita tidak perlu menunggu untuk bisa merubah kesejahteraan kita, kita bisa merubahnya sendiri, dan dengan segala hormat jangan pernah bergantung pada generasi-generasi tua, sistem lama tidak akan pernah bekerja lagi. Untuk tahun-tahun kedepan meraka yang bertahan pada krisis ini, idenya akan berumur panjang, pondasinya akan kokoh, dan mereka akan menjadi manusia-manusia garda terdepan perubahan wajah baru Indonesia. Sekarang adalah waktunya, jangan menunggu terlalu lama, inilah saatnya 60% mayoritas Indonesia tampil ke Dunia, Allahu Akbar, Merdeka!

(Penulis: Izzuddin Ahsanu Junda)

 

4 comments

  • Nur Anisah, S.Pd
    / Balas

    Mumtaz, lanjutkan

  • Wardiana Kusumah
    / Balas

    Alhamdulillah Pemuda Hari ini Pemimpim Masa yang akan Datang.
    bangsa ini membutuhkan Para Pemuda yang bisa menggoncang Dunia dengan Kebaikan dan menjadi arus perubahan Menuju Kebaikan Diri , Masyarakat Bangsa dan Negara.
    Alloohu Akbar !!!
    Sholluu alaa Muhammad !!!
    Merdeka !!!

  • Susi Susanti
    / Balas

    Masya Allah tulisan yang keluar dari pikiran anak muda yang bersemangat, biasanya kritis dan lugas. Mengutip pesan Buya Hamka kepada para pemuda bangsa ini, bahwa sesungguhnya perjuangan di masa kini hinggap di bahu para pemuda. Meneruskan estafet perjuangan generasi sebelumnya. Namun pemuda bukan tanpa isi, para pemuda itu tidak bisa tidak, haruslah mengusung obor ilmu, guna menerangi kehidupan umat islam di masa ini. Agar tidak menjerumuskan. Agar menegakkan keadilan dengan ilmu. Bukan belitan hawa nafsu. Pemuda dan inteletualitas inilah yang akan menentukan jejak langkah kemudian. Allohu Akbar

  • / Balas

    Syukron ustad Ahsan.. Berjuang lMenjadi Generasi Robbani dengan melek teknologi dengan berinovasi dan belajar diskusi dengan siswa-siswi Untuk mendapatkan Ilmu pengetahuan tinggi dan Akhlak Terpuji untuk Meraih Ridho Ilahi. Allahu Akbar..

Leave a comment

CLOSE
CLOSE